Mar 17

RAKYAT BALI WAJIB DORONG PEMBANGUNAN LOMBOK DAN BANYUWANGI

THE SUKARNO CENTER – Dr.Shri I Gst Ngrh Arya Wedakarna MWS III ( President The Sukarno Center ) Bersama Sukmawati Sukarno Putri  ( Ketua Dewan Pembina The Sukarno Center ) Bersama Guruh Sukarno Putra ( Ketua Umu Yayasan Bung Karno Jakarta ) Bersama Ketika Meninjau Bali International Flight Academy (BIFA) Di Gerogak, Buleleng 

Taksu Bali sebagai pusat budaya dan basis Pancasila tentu harus didorong dengan kemampuan dan kemauan untuk mempertahankan dirinya sebagai pusat semesta. Dan nama baik Bali yang jauh lebih terkenal dari nama induknya, Indonesia, diharapkan mampu menjadi cambuk dari wilayah lainnya di Nusantara untuk mengikuti jejak Bali dalam hal kebanggaannya terhadap ideologi Pancasila. Situasi alam yang mendukung, dan keteduhan ajaran agama Hindu di Bali dan tidak adanya pertentangan antara paham tradisional orang Bali dengan nilai – nilai kebangsaan, semakin menjadikan menjadikan Bali adalah tempat yang aman untuk melestarikan nilai – nilai Pancasila. Namun sayang sekali bahwa usahan – usaha itu terkendala dengan heterogenitas Bali yang akhirnya membawa sebagian permasalahan dalam kebhinekaan terhadap warga Bali, dan untuk itu Bali perlu memformulasikan strategi baru dalam pembangunan. Demikian diungkapkan oleh Dr.Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III ( President The Sukarno Center ) disela – sela mendampingi rombongan The Sukarno Center dan Yayasan Bung Karno di Jakarta di Buleleng. Ia mengatakan bahwa jika Bali ingin steril kembali dari vibrasi – vibrasi negatif akibat heterogenitas yang ada, maka Bali wajib membantu pembangunan wilayah – wilayah yang bertetangga dengan Bali.

”Saya sebagai putra Bali, mempunyai teori dan pandangan, bahwa jika Bali ingin selamat dari dari berbagai hal, maka Bali harus turut membantu perkembangan wilayah sekitar, misalkan kita dorong pembanguan Banyuwangi ( Blambangan ) dan Lombok ( NTB ). Karena bagaimanapun juga kue pembangunan harus dibagi rata, sembari mensterilkan kembali nilai – nilai budaya Bali dari rongrongan budaya lainnya.”ungkap Dr.Arya Wedakarna. Dan untuk itulah, ia sangat mendorong pembangunan pariwisata, pendidikan dan ekonomi didua daerah ini agar potensi bisa dihasilkan. ”Sebagai contoh, disaat praktisi pariwisata Bali berkeberatan dengan pembangunan Airport Internasional di NTB dan pembangunan kawasan pariwisata terpadu di NTB, justru saya sangat mendukung agar NTB bisa lebih maju dari Bali. Dengan begitu, maka SDM di NTB tidak sampai keluar pulau. Begitu juga di Banyuwangi. Saya dorong agar Banyuwangi bisa menjadi salah satu kota dengan ekonomi tinggi di Jawa Timur, maka eksodus dan migran penduduk luar ke Bali akan diminilisir. Ibaratnya, ibaratnya Bali akan steril dan bersih kembali.”ungkap Dr.Wedakarna. Ia juga menyatakan dengan begitu masalah kriminalitas dan prostitusi dan membludaknya efek pendatang di Bali akan bisa diminimalisir. ”Saya bersyukur, bahwa masyarakat Bali masih percaya hukum karma dalam membangun. Mari kita dukung pembangunan di Banyuwangi dan NTB sebagai wujud untuk lebih menjaga taksu Bali. Kita akan adakan langkah – langkah konkrit untuk hal itu. Kita siap membagi ilmu untuk wilayah tetangga kita”pungkas Ketua Umum Forum Intelektual Muda Hindu Dharma ( FIMHD ) ini.