Atma Bung Karno Resmi Melinggih di Istana Tampaksiring

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, setelah wafat pada 21 Juni 1970, Bung Karno mendapatkan perlakuan yang tidak sepantasnya dari negara saat itu. Sejarah mencatat, Bung Karno wafat setelah menjadi tahanan kota di Wisma Yaso Jakarta dibawah rezim Mayjen TNI Suharto setelah berhasil melakukan kudeta merangkak pada pemerintahan Presiden Sukarno. Begitu pula ketika wafat, wasiat Bung Karno untuk dimakamkan di Batu Tulis Bogor, Jabar ditolak mentah – mentah oleh Soeharto. Akhirnya,dengan sangat terpaksa makam Bung Karno dibangun di Blitar. Ternyata penderitaan Bung Karno belum berakhir, ketika Ibu Negara Fatmawati Sukarno wafat, lagi – lagi pemerintah orde baru menolak menyandingkan makam Ibu Fatmawati dengan Sukarno. Terpaksa makam suami istri ini dipisah karena alasan politis. Begitu juga saat Makam Bung Karno dipugar oleh rezim Suharto, pihak pemerintah sama sekali tidak melibatkan keluarga dan putra – putri Bung Karno dalam prosesnya, sehingga dicurigai bahwa Tulang Belulang Bung Karno sudah dimusnahkan diam – diam oleh rezim Orde Baru.  Namun segala luka derita selama 41 tahun itu, seakan terbalas dengan upacara Nilapati Yadnya yang diadakan oleh Raja Majapahit Bali Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I, yakni Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa yang atas izin Keluarga Presiden Pertama RI Sukarno tepat diselenggarakan tepat pada hari Pahlawan. ”Bagi saya sumber malapetaka yang dialami bangsa Indonesia saat ini, adalah karena anak – anak bangsa semua tulah dengan Bung Karno, dengan leluhur bangsa, dan juga melupakan ajaran Majapahit. Kita bisa bayangkan penderitaan selama 41 Tahun Atma Bung Karno belum mendapatkan tempat yang layak dihadapan Tuhan. Jadi untuk memperbaiki bangsa ini,generasi sekarang harus membenahi hulunya terlebih dahulu yakni bagaimana menempatkan leluhur dengan baik. Dan upacara ini merupakan bukti bahwa kemuliaan itu masih ada. Ya…setiap zaman akan memiliki anak zamannya sendiri.”ungkap Gusti Wedakarna. Upacara Yadnya sendiri dipuput oleh Ida Pedanda Gede Wayahan Bun dari Griya Sanur Pejeng, dan usai diarak oleh Kereta Kencana Raja Majapahit Bali langsung diadakan upacara di Pelinggih Istana Kepresidenan RI Tampaksiring. ”Kini, Ida Betara Bung Karno sudah resmi melinggih di Istana Tampaksiring, dan kita berharap akan menyinari bangsa Indonesia dengan segala kekuatannya. Sungguh, ini kebanggaan bagi saya selaku pribadi , selaku putra Hindu Indonesia , bisa memberikan penghormatan dan upacara yang mulia ini pada pahlawan bangsa. Terimakasih atas doa seluruh rakyat Indonesia dan juga pada Raja / Sultan Nusantara yang berkenan hadir sebagai Maha Upasaksi  di Istana Tampaksiring.”ungkap Rektor Universitas Mahendradatta ini disela – sela acara di Istana. Seusai acara di Pelinggih Istana Presiden, para Raja dan Sultan Nusantara diterima oleh Sukmawati Sukarno di Wisma Bima untuk beramah tamah.